Posted in Family

BELAJAR MENGHARGAI ANAK

Salam Sahabat !

Ada sebuah pertanyaan yang mengusik pikiran saya.

Perlukah seorang anak menerima penghargaan dari orang-orang dewasa sekitarnya?

Anak adalah sosok manusia mungil , imut, suci dari dosa, dan menggemaskan. Saya sendiri termasuk orang yang suka sekali dengan anak, anak tetangga, anak yang saya ajar dulu, bahkan anak-anak dari hewan pun, saya menyukainya, he..he… apalagi anak sendiri, cinta saya untuknya sepenuhnya.  Saya punya opini, seorang anak, meski ia balita, tentu dianugerahi perasaan ingin dikasihi dan disayangi oleh orang-orang dewasa. Nah, kalau orang tuanya begitu perhatian dan mencurahkan kasih sayang kepada anaknya, sungguh anak merasa bahagia, dan hangat menjalani kehidupannya. Secara tak langsung kita menghargai keberadaannya. Bentuk penghargaan lainnya untuk anak-anak balita misalnya, mendengarkan apa pemikiran kecilnya, meluangkan waktu untuk menemaninya, memujinya saat ia berbuat baik, dan tidak serta merta menghukumnya saat berbuat kesalahan.

Saya kadangkala melihat, seorang anak diremehkan oleh orang tuanya sendiri, terlalu dikekang, dan dibatasi haknya untuk bermain dan kurang mendukung minat si anak. Jika anak berbuat gaduh, tentu orang tua menjadi marah, tanpa mau tahu dengan perasaan anak yang tersakiti, tetapi jika orang tua gaduh karena sedang mengerjakan sesuatu, memperbaiki rumah, membuat perabotan rumah misalnya, apa seorang anak protes dengan kegaduhan yang dilakukan orang tua?..Tentu tidak kan…? ini menggelikan. Sesungguhnya anak balita itu memerlukan sentuhan sayang dari orang tua, perhatian, dan penghargaan.

Namun, agak jarang orang dewasa yang mampu menghargai anak, kecuali para orang tua yang mengerti tahapan tumbuh kembang anak. Mereka paham, bahwa anak belajar sesuatu dari perbuatan, melempar benda mainannya sendiri, merobek kertas, memukul-mukul sesuatu hanya karena tertarik untuk mendengarkan bunyi dari sebuah benda, bermain lumpur, bermain air, itu semua hal yang sangat disukai anak. Lihatlah betapa bahagianya ia ketika kita memberinya kebebasan untuk mengeksplor minat dan bakatnya itu. Lihatlah matanya yang berbinar saat ia asik mengaduk-aduk lumpur dan bergulingan di atasnya. Lihatlah ekspresi bahagianya saat ia bermain semprotan air, menggunting-gunting kertas, sungguh ia ( anak ) sangat bahagia.  Orang tua cukup mengawasi agar buah hatinya tetap aman.

Bermain lumpur

 

 

Saat anak bicara, marilah kita mencobanya untuk mendengarkan pendapat-pendapatnya. Betapa kita akan kaget, saat opini-opininya kadangkala seperti pemikiran orang dewasa. Belajar menikmati obrolan dengannya.  Tanpa kita sadari, seorang anak belajar banyak kosa kata, dengan aktifnya berbicara. Tidak ada yang sia-sia jika kita menghargainya. Anak pun akan belajar menghargai orang lain, termasuk kita sebagai pendidik awal. Menghargai anak tidak melulu disamakan dengan materi/ benda.  Kehangatan, kasih sayang, waktu luang, dan kebebasan yang kita berikan dalam mengksplorasi minatnya itu sudah membuat mereka sangat bahagia.

Saya pun, sebagai seorang ibu, berusaha untuk terus belajar menghargai buah hati saya.

Seruuu

 

Advertisements

Author:

I'm a teacher in Islamic Elementary School. Hand lettering is my new hobby, but I like it so much. Here, I wanna master it n all the genre of my writing.

Please share your minds with me! Thank you!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s